Tampilkan postingan dengan label KELUARGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KELUARGA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juni 2010

Banyak hal yang menjadi tantangan bagi orang tua apabila anaknya menderita autisme. Salah satu keadaan yang sering dihubungkan dengan autisme adalah epilepsi. Penyandang autisme memiliki risiko lebih besar untuk mengalami epilepsi dibandingkan dengan anak yang tidak autisme.

Keterlibatan gangguan otak pada autisme telah dibuktikan dengan pemeriksaan terhadap anatomi dan struktur otak, pemeriksaan terhadap bahan kimia di otak dan berbagai pemeriksaan pencitraan (imaging). Namun tak ada satupun yang dianggap sebagai penyebab pasti dari autisme.

"Sebanyak 40 persen anak penyandang autisme juga mengalami epilepsi, sedangkan risiko pada anak bukan autisme hanya sekitar 1-2 persen saja. Sebaliknya anak yang mengalami epilepsi tertentu sering disertai dengan gejala autisme," ujar Dr Hardiono D Pusponegoro, SpA(K) dalam acara Expo Peduli Autisme 2010, di Gedung Sucofindo, Jakarta, Sabtu (17/4/2010).

Dr Hardiono menambahkan kejang adalah perubahan sementara dan tidak terkontrol dari kesadaran, perilaku, aktivitas motorik, sensasi atau fungsi otonomnya. Hal ini disebabkan oleh aktivitas listrik sel saraf di otak yang berlebihan. Jika kejang terjadi lebih dari 15 menit dianggap sebagai kejang lama, sedangkan jika berlangsung lebih dari 30 menit disebut sebagai status epileptikus.

Anak dengan beberapa keadaan khusus misalnya tuberous sclerosis, rubella congenital, sindrom Down, sindrom Landau Kleffner dan electrical status epilepticus during slow-sleep dapat mengalami autisme dan epilepsi secara bersama-sama.

Seorang anak yang mengalai kejang tanpa demam untuk pertama kalinya disebut sebagai first unprovoked seizure. Sebanyak 20 persen anak yang mengalami kejang ini akan mengalami kejang kembali. Jika sudah dua kali mengalami kejang tanpa sebab maka disebut sebagai epilepsi. Epilepsi bisa terlihat sebagai bangkitan kejang umum seluruh tubuh atau hanya satu sisi (parsial) tubuh saja.

Bila seorang anak mengalami kejang tanpa sebab dua kali atau lebih, maka biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan electroencephalography (EEG). Berdasarkan pemeriksaan ini dapat diketahui aktivitas listrik sel saraf otak. Karena pemeriksaan EEG dilakukan saat anak sedang tidak terkena serangan, maka sebanyak 10-20 persen anak menunjukkan hasil EEG yang normal.

"Pemeriksaan EEG tidak dilakukan secara rutin pada anak penyandang autisme. EEG hanya bermanfaat jika anak mengalami epilepsi atau kemunduran (regresi). Dan juga tidak ada bukti bahwa kelainan EEG tanpa kejang bisa memperburuk gejala autisme," tambahnya.

Suatu penelitian jangka panjang dilakukan terhadap 108 anak penyandang autisme, didapatkan pada usia 17-40 tahun sekitar 38 persennya mengalami epilepsi. Epilepsi lebih sering ditemui pada penyandang autisme yang disebabkan oleh penyebab medis jelas, serta kejang pertama paling sering terjadi saat usia 3-7 tahun.

"Serangan yang paling sering dialami oleh anak autis adalah absence, yaitu serangan bengong secara tiba-tiba dan terjadi belasan kali dalam sehari. Kondisi ini mudah untuk diobati," ujar dokter dari divisi saraf anak departemen ilmu kesehatan anak FKUI.

Dr Hardiono menuturkan anak autis banyak yang menunjukkan perilaku hiperaktif dan gangguan perilaku lainnya, maka tidak semua obat bisa digunakan untuk anak penyandang autis dan harus memperhatikan kemungkinan efek samping dari pengobatan yang diberikan. Karena beberapa obat sering menyebabkan anak bertambah hiperaktif dan masalah perilaku lainnya.

"Tapi satu hal yang penting untuk diingat adalah jangan sekali-kali menghentikan obat epilepsi secara mendadak atau sendiri, karena dapat menyebabkan kejang yang lebih hebat dan sulit untuk diatasi," tambahnya. Selengkapnya...


Buah hati yang sehat dan bijak sana adalah dambaan hati keluarga .Bagai mana perasaan anda jika anak kesayangan menderita suatu penyakit, mungkin telah banyak pengorbanan yang anda lakukan kepada anak tersebut , semenjak dia dikandungan sampai lahir. Kita tidak dapat menyalakan siapapun termasuk dirikita sendiri .Membiarkan anak menderita penyakit lebih lama akan menamba sakitnya jiwa anda sebagai orang tua. dari Pusat kesehatan London telah memlakukan eksperimen tentang cara mendeteksi anak autis.Mendeteksi anak autis tidaklah gampang. Si anak harus melewati tes psikologis yang panjang mulai dari interaksi sosial, komunikasi, uji keterampilan hingga tes fisik.

Perasaan cemas yang merupakan tantangan bagi orang tua tentang cara mendeteksi anak au tis akan berubah, sebab tak lama lagi, deteksi anak autis bisa dilakukan dengan cara yang sederhana dengan hanya menguji beberapa tetes air seni seperti layaknya tes kehamilan.

Ilmuwan kini tengah menyempurnakan penggunaan tes urine untuk deteksi anak autis yang diharapkan sudah bisa diterapkan penggunaannya secara luas pada tahun 2015. Dari tes ini bisa diketahui 'ya' atau 'tidak' anak terkena autis.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Imperial College London dan University of South Australia ini, adalah terobosan baru yang sangat membantu penegakkan diagnosis autis dengan cara yang mudah.

Apalagi gejala autis sudah muncul sejak anak dilahirkan. Dengan adanya diagnosis lebih awal, pengobatan anak autis bisa dilakukan sejak dini sehingga orangtua bisa lebih tanggap mengobati anaknya.

Profesor Jeremy Nicholson dari Imperial College London mengatakan urine anak-anak autis mengandung bahan kimia yang berbeda. Temuan yang disebut 'sidik jari metabolisme urine' itu telah dilaporkan dalam Journal of Proteome Research.

Peneliti menemukan ada tiga kelompok sidik jari kimia yang berbeda. Kelompok itu adalah anak-anak bukan autis tapi punya saudara autis, anak-anak tanpa saudara autis dan anak-anak autis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan autisme memiliki bakteri yang berbeda dalam ususnya dibanding orang lain.

Orang dengan autisme biasanya mengalami masalah pencernaan yang berasal dari berbagai bakteri dalam usus. Ilmuwan mengatakan pemahaman tentang bakteri ini dapat membantu pengobatan untuk mengatasi masalah pencernaan anak autis.

Ilmuwan menyarankan perlunya pemahaman baru tentang bakteri karena bisa membantu mengembangkan pengobatan untuk mengatasi masalah pencernaan anak autis.

"Kami berharap temuan ini akan menjadi jalan untuk menciptakan tes urine sederhana dalam mendiagnosa autisme pada usia dini," kata Profesor Jeremy Nicholson, kepala Departemen Bedah dan Kanker di Imperial College London seperti dilansir dari FoxNews, Minggu (6/6/2010).

Sekitar 88 persen anak autis memiliki kondisi usus yang rusak atau dikenal dengan istilah autistic colistic. Hal ini menunjukkan bahwa masalah anak autis bukan hanya pada kepala tapi juga gangguan di bagian pencernaan.

Masalah utama dari autisme ada tiga yaitu otak, racun dan fungsi pencernaannya. Karena itu tidak ada pengobatan yang instan bagi anak autis, dan dibutuhkan kesabaran serta waktu yang panjang untuk terapinya. Selengkapnya...

Kamis, 03 Juni 2010


Bagi pengantin baru atau pasangan yang tlah lama menika atau lagi buat keluarga yang mau menambah buah hati,Salah satu resolusi di awal adalah setidaknya pasangan anda mengikuti tips yang kami anjuran . Setelah cukup lama kami menantikan, mudah-mudah tahun ini kami bisa menimang buah hati yang merupakan wujud dari cinta kami berdua.

Ada saja obrolan dari yang serius sampai yang seronok tentang bagaimana mencetak keberhasilan. Dibawah ini saya tulis beberapa tips yang konon super duper manjur. Saya (dan suami) siy belum terbukti berhasil, tapi kami mencobanya … hehehe …

Katanya, posisi saat berhubungan memegang peranan penting tertanamnya benih di rahim. Katanya, waktu orgasme dan ejakulasi menentukan jenis kelamin.

Ini detailnya :

* Menghitung masa subur. Normalnya, siklus menstruasi adalah 28 hari. Lakukan hubungan sebelum masa ovulasi. Hal ini dilakukan karena sperma bisa tetap berada di dalam rahim dan saluran telur selama 2-3 hari sementara telur hanya bertahan 12-24 jam setelah dilepaskan. Berhubungan seks sebelum masa ovulasi ibarat sperma sebagai pengantin laki-laki yang menanti mempelai perempuan. Heheeh. Lakukan hubungan seks beberapa hari setelah menstruasi berakhir. Idealnya adalah hari ke-10, hari ke-12 dan hari ke-14. Hal ini dilakukan selain memberikan waktu untuk sperma terproduksi dengan baik, juga memberi waktu untuk pembuahan sebelumnya.
*

* Posisi. Konon, posisi laki-laki di atas adalah ideal terjadinya pembuahan karena posisi ini adalah yang paling memungkinkan mengantarkan sperma pada serviks. Tapi pada kondisi “tidak biasa”, seperti seorang teman saya yang posisi rahimnya menggantung *saya kurang mengerti dengan kondisi ini tapi saya sering mendengar* katanya posisi doggy style sangat membantu, sementara untuk posisi rahim normal, posisi ini paling tidak mendukung terjadinya pembuahan karena posisi rahim yang bertolak belakang dengan terjadinya peluncuran sperma.
*
* Banyak orang tua *entah nenek, bude, ibu* bilang gunakan bantal saat melakukan hubungan seks. Bukan, bukan berhubungan seks dengan bantal dijadiin sex-toy hehehe … ngertilah maksud saya ! Setelah melakukan hubungan seks, gunakan bantal untuk mengganjal pinggul. Hal ini membantu sperma mengalir dari terkumpul di rahim. Berbaring sekitar 15-30 menit sambil rileks juga sangat membantu. Ada seorang teman pria yang cerita, setelah melakukan hubungan seks, dia mengangkat kaki istrinya tinggi-tinggi. Kalau saya, tidak akan melakukan hal itu. Pertama, karena tentu tidak nyaman. Kedua, masa’ siy kita tega setelah suami mengalami kepuasan masih disuruh kerja keras ngangkat kaki? Please deh …
*
* Pagi, siang, sore, atau malam hari ??? Banyak yang bilang pagi hari kualitas sperma lebih bagus. Tapi pagi hari biasanya kita terganggu dengan “bau naga” … hehehe ngaku aja !!! Sewangi-wanginya nafas pagi hari lah !!! Idealnya, bangun dulu, cuci muka dan gosok gigi, baru bercinta. Tapi biasanya sudah malas duluan hehehe … Idealnya adalah malam hari, karena biasanya mood juga baik *atau saat mood tidak baik, kegiatan bercinta bisa membuat mood membaik!!!* dan setelah melakukan hubungan seks bisa langsung berbaring, tidur, dan hal ini membantu terjadinya pembuahan.
*

* sexbedLast but not least, ini yang masih jadi perdebatan. Tentang jenis kelamin. Katanya, kalau mau dapat cowok, si suami harus banyak konsumsi daging. Kalau cewek, konsumsinya sayur-sayuran. Kualitas konsumsi mempengaruhi sperma dalam menentukan jenis kelamin. Dokter saya juga bilang, katanya kalau mau dapat jenis kelamin cowok, saat orgasme harus duluan si istri, baru setelah itu suami ejakulasi. Katanya lagi, posisi miring kanan dan kiri ikut juga menentukan jenis kelamin.Bagi pemula, mau cowok atau cewek, yang penting lahir sehat Selengkapnya...